Nama : Rosmayandi
Nim : A1A110065
TTL : Jambi, 09 Mei 1992
Alamat : Jl. Raya Kasang Pudak Rt 09/04 No. 27 Kec. Kumpeh Ulu Kab. Muaro Jambi
Fakultas/prodi : KIP/Pendidikan ekonomi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG PENULISAN
Belajar
gerak secara khusus dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan atau
modifikasi tingkah laku individu akibat dari latihan dan kondisi lingkungan
(Drowatzky, 1981).
Schmidt (1988),
menyatakan bahwa belajar gerak mempunyai beberapa ciri yaitu:
a. Merupakan
rangkaian proses
b. Menghasilkan
kemampuan untuk merespon.
c. Tidak dapat
diamati secara langsung, bersifat relatif permanen
d. Sebagai hasil
latihan
e.
Bisa menimbulkan efek negatif
dalam belajar gerak, ada beberapa gerak dasar yang harus dikuasai oleh setiap anak usia dini.
Adapun gerak
dasar yang dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut:
Gagne, 1977:3 Belajar gerak adalah sebagai tingkah laku atau perubahan kecakapan yang mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu, dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Gagne, 1977:3 Belajar gerak adalah sebagai tingkah laku atau perubahan kecakapan yang mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu, dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Romiszowski,
1988:253 Belajar gerak adalah belajar yang diwujudkan melalui respon-respon
maskular, yang pada umumnya diekspedisikan dalam gerak tubuh atau bagian tubuh.
Rabb, 1972
Belajar gerak merupakan suatu pengaturan kembali pola gerak dasar yang
mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku gerak yang terjadia sebagai suatu
hasil latihan.
Weineck,1983:71
Tugas utama dalam belajar gerak adalah penerimaan segala informasi yang relevan
tentang gerakan-gerakan yang dipelajari kemudian mengolah dan menyusun
informasi tersebut memungkinkan suatu realisai secara optimal.
Berdasarkan uraian diatas, maka saya ingin membahas masalah “Belajar Motorik”.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apakah
Reinforcement dan umpanbalik itu?
2.
Apa Proses belajar :
hukum laterm dan teori belajar motorik?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.
Untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh Reinforcement dan umpanbalik serta Proses
belajar :
hukum laterm dan teori belajar motorik dalam mengahadapi masalah.
2.
Untuk mengupayakan agar
tugas dan peran pokok seorang pelatih untuk membangun keterampilan gerak
seorang atlet dengan baik yang pada akhirnya tujuan utama prestasi olahraga
bisa tercapai.
D.
MANFAAT
PENULISAN
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.
Dapat menjadi acuan
mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Belajar Motorik.
2.
Dengan adanya
makalah ini dapat membantu mahasiswa/i untuk lebih memahami Proses Belajar
Motorik.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Reinforcement
dan Umpan Balik
Dalam
beberapa prinsip dalam bidang kontrol motorik dari belajar motorik, penguasaan
prinsip-prinsip
yang relevan dengan proses belajar akan sangat membantu para guru atau pelatih
untuk meningkatkan efektivitas pengajaran atau kepelatihan. Tujuan dari
kegiatan tersebut pada dasarnya ialah perubahan perilaku pada siswa. Dan
perubahan perilaku itu disebabkan karena siswa yang bersangkutan aktif dan
memberikan respons terhadap seperangkat pengalaman atau tugas sebagai stimulus.
Dalam hal ini akan dibahas konsep dan
aplikasi reinforcement untuk memperkuat "koneksi" antara rangsang dan
respons. Berkaitan dengan konsep reinforcement, kita bahas juga konsep dan
pemanfaatan umpanbalik (feedback)
dalam proses belajar keterampilan motorik.
2.1.1
Pengertian Reinforcement dan Istilah
Lainnya
Istilah reinforcement dan umpanbalik
kadang-kadang dipahami sebagai dua istilah yang
sama pengertiannya, meskipun tidak
demikian. Bahkan ada lagi istilah lain yang agak mirip maknanya seperti hadiah,
ppngetahuan tentang hasil, dan pengetahuan tentang penampilan. Pada suatu saat,
beberapa istilah tersebut seperti serupa, namun dalam situasi lain sungguh berbeda
pengertiannya.
Reinforcement berarti setiap kondisi,
jika diikuti oleh suatu respons, meningkatkan peluang bahwa respons tersebut
akan terjadi kembafi manakala rangsang yang sama diberikan (Oxendlne, 1984).
Pada suatu saat, pemberian hadiah atau hukuman terhadap seorang siswa misalnya,
dapat menghasilkan respons tertentu, sehingga hadiah atau hukuman itu dianggap
sebagai reinforcement. Umpanbalik juga bisa ber-pengaruh demikian. Setelah
disampaikan kepada siswa, maka bisa terjadi suatu respons tertentu menyusul
umpanbalik tersebut. Situasi demikianlah yang menyebabkan, seolah-olah kabur sekali
perbedaan antara beberapa konsep
tersebut.
Namun demikian, seperti dikemukakan
Travers (977),
umpan-balik jatuh ke dalam kategori
reinforcement, jika mengubah probabilitas suatu perilaku akan terulang atau
berhenti sama sekali pada kejadian berikutnya. Sebaliknya,
ada masanya bahwa beberapa faktor tersebut tak dapat dikaitkan dengan perilaku
sposifik, dan karena itu tidak disebut sebagai reinforce. Karena
itu, tak selalu hadiah atau hukuman berfungsi sebagai reinforcer yang efektif.
Sebagai contoh, berulang kali seorang siswa terlambat datang dalam pelajaran
pendidikan olahraga meskipun pada setiap saat itu dia memperoleh hukuman dari
gurunya, umpamanya lari selama 12 menit. Hukuman tersebut tidak mempan untuk membuat
siswa yang bersangkutan menghentikan
kebiasaan datang terlambat. Sebaliknya, seorang pemain sepakbola yang merasa
selalu berhasil
menyelesaikan tendangan penalti dengan pelan
tapi terarah tepat, akan mengulang-ulang teknik
melaksanakan tendangan hukuman itu dengan cara tersebut ketimbang dengan
tendangan keras. Cara menendang bola pelan tapi terarah itu berfungsi sebagai
sebuah unsur penguat sehingga dalam kesempatan berikutnya,
cara itu diulang-ulang kembali oleh pemain yang bersangkutan.
Unsur penguat itu ada yang berhentuk
barang nyata, umpamanya makanan yang diberikan kepada binatang untuk memuaskan
perasaannya terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dan
bisa juga unsur penguat itu berupa perilaku tertentu. Sebagai contoh, setiap
kali seorang pemain berhasil melakukan smash
keras menyilang ke rusuk kiri lapangan lawannya dalam permainan bulitangkis,
setiap kali itu pula penonton bertepuk tangan sebagai
pertanda memberikan dukungan atau ucapan selamat atas
keberhasilan pemain yang bersangkutan. Dalam kesempatan berikutnya, semakin
riuh rendah tepuk tangan penonton, semakin sering pemain tersebut melakukan
pola serangan tersebut. Jadi, sambutan penonton merupakah sebuah unsur penguat
terhadap pemunculan perilaku tertentu dari pemain tersebut. Kadang-kadang, ada
pemain yang tidak menyadari keadaan tersebut, sehingga dia dirusak oleh
penonton dengan cara memberikan sambutan tepuk tangan secara berencana agar
pemain melakukan smash dengan pola yang sama. Padahal, dia tidak harus selalu
berbuat demikian, sehingga akhirnya, di antara sekian banyak serangannya itu,
sebagian di antaranya gagal, seperti bola keluar, menyentuh faring, atau
gampang dibaca.oleh lawan.
2.1.2
Umpanbalik
Baik dalam olahraga pendidikan maupun
olahraga prestasi, pengetahuan tentang hasil yang dicapai dan pelaksanaan tugas
gerak dalam suatu cabang
merupakan pencapaian tujuan yang diharapkan. Informasi
tentang hasil atau penampilan dalam suatu cabang olahraga bermanfaat untuk
membuat keputusan, khususnya dalam perencanaan lingkungan belajar atau berlatih
yang efektif.
Ø Klasifikasi Umpan Balik
Untuk memudahkan kita mengenai
macam-macam umpanbalik yang terdapat dalam suasana
mengajar, ada baiknya hal itu diklasifikasi. Dan kita menyadari, tidak semua
informasi berkaitan.langsung dengan hasil pelaksanan gerak. Karena itu ada
informasi yang relevan dan tidak relevan. Sebagai contoh, ketika kita berjalan
tak ada sangkut pautnya dengan gerakan kita dengan sears mobil atau kendaraan
lainnya yang gaduh. Selanjutnya, jika ditelaah aspek kedatangan umpanbalik itu
sendiri, kita dapat membuat klasifikasi menjadi umpanbalik sebelum tindakan
berlangsung, dan umpanbalik
yang tersedia selarna atau sesudah tindakan selesai.
a.
Umpanbalik intrinsik
Umpanbalik yang
dihasilkan oleh gerakan yang telah dilakukan terbagi menjadi dua
kategori yakni; (1)
umpanbalik intrinsik. dan (2) umpanbalik ekstrinsik. Setelah seseorang
melakukan suatu gerakan dalam cabang olahraga tertentu, dia akan memperoleh
informasi tentang beberapa aspek mengenai gerakannya sendiri melalui beberapa
saluran informasi. Bentuk informasi tersebut sudah terkandung dalam respons
teftentu. Sebagai contoh, saya mengetahui bahwa saya melakukan pukulan service
yang salah dalam permainan tenis setelah saya melihat bola keluar atau menyangkut
pads faring. Demikian juga halnya, tatkala
punggung saya terhempas keras di air sesudah melakukan suatu gerakan dalam
loncat indah,
saya tahu ada gerakan yang salah. Kesimpulannya ialah, respons atau pelaksanaan
dan hasil yang diperoleh merupakan sumber dari
umpanbalik. Dan informasi tersebut terwujud dalam berbagai bentuk. Apakah umpanbalik
intrinsik selalu kita sadari dan membutuhkan evaluasi? Tidak semua demikian.
Kadang kala, saya tahu dan, saya lihat sendiri pukulan saya salah ketika menerima
service keras dalam per.mainan tenis. Kesalahan yang terjadi serta merta saya
ketahui dengan jelas. Namun ada pula umpanbalik intrinsik lainnya yang sukar
dikenal, dan karena itu, si pelaku harus belajar untuk
mengevaluasi informasi
dan aspek yang terdapat di dalamnya. Sebagai contoh,
ketika seorang pesenam berlatih Salto ke depan, maka
pads waktu berputar di udara dia mungkin tak
merasakan bahwa lututnya benar-benar ditekukan atau tidak.
Untuk mengetahui
benar salahnya suatu gerakan seperti dalam contoh
tersebut di atas, dibutuhkan sebuah rujukan tentang gerakan yang benar. Karena
itu, umpanbalik intrinsik
pada dasarnya ialah suatu informasi yang diperoleh dengan membandingkan rujukan
gerak yang telah dipelajari dengan apa yang baru saja dilakukan. Itulah
sebabnya, proses
deteksi kesalahan sendiri oleh si pelaku yang bersahgkutan disebut
reinforcement sublektif (Adams, 1971; Adams & Bray, 1970). Rupanya tanpa
rujukan tentang benar salahnya suatu gerakan, berbagai bentuk umpanbalik
intrinsik tak dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi.
b. UmpanbaIik
Ekstrinstik
Berbeda halnya
dengan umpanbalik intrinsik (sudah melekat pada gerakan yang telah dilakukan),
umpanbalik ekstrinsik adalah umpanbalik yang diperoleh tentang tugas gerak yang
sifatnya sebagai pelengkap bagi siswa. Informasi ekstrinsik,
sebagian di antaranya berupa informasi verbal, seperti catatan waktu dalam
satuan detik atau mill-detik untuk pelari cepat
100 m, atau skor 1,00-10,00 untuk pesenam. Sorang
pesenam yang memperoleh nilai 5,00 misainya akan dapat mengetahui, bahwa
gerakan yang telah dilakukannya tergolong buruk, atau dia banyak melakukan
kesalahan. Dengan
demikian,
skor kuantitatif itu dapat diucapkan secara verbal, bahkan
diuraikan lebih terinci sebagai informasi yang menunjukkan tingkat keberhasilan
seseorang melakukan suatu gerakan.
Umpanbalik
seketika disampaikan pada waktu gerakan itu sedang dilakukan (misalnya,
informasi tentang kesalahan posisi kaki ketika seorang pesenam sedang melakukan
satu rangkaian gerakan dalam senam lantai), sementara umpanbalik terminal diberikan
setelah seluruh gerakan selesai (misalnya, skor yang diperoleh pesenam). Aspek
lain dari umpanbalik ekstrinsik yakni umpanbalik yang ditinjau dari saat
penyampaiannya. Yang pertama disebut umpanbalik langsung dan umpanbalik
tertunda. Umpanbalik itu ada yang berupa verbal (misalnya, komentar pelatih tentang
benar salahnya suatu kesalahan) dan non-verbal (misalnya,
berupa kode lambaian bendera
merah jika seorang pelari jarak 1500 m berlari dengan kecepatan melebihi
"irama kecepatan" yang telah direncanakan pada setiap putaran.
Ada pula
informasi umpanbalik yang terhimpun secara keseluruhan dari beberapa penampilan
terdahulu yang kemudian disampaikan sebagai gambaran umum
tentang penampilan. Kebalikannya ialah informal Umpanbalik yang disampaikan
secara terpisah bagi setiap penampilan gerak. Tentu saja,
kesemua dimensi umpanbalik tersebut harus dianggap
sebagai bagian yang tak terpisah satu sama lain. Sebagai contoh, sungguh
mungkin, umpanbalik ekstrinsik yang disampaikan dalam waktu
tertunda bisa berupa verbal atau nonverbal. Umpanbalik seketika bisa ber upa
umpanbalik langsung atau tertunda. Pembagian yang dibuat hanyalah sebagai
deskripsi analitik dari umpanbalik yang telah dikenal dan bisa diterapkan
dalam kegiatarn
olahraga.
c.
Pengetahuan
tentang Hasil (HP)
Yang dimaksud
dengan pengetahuan tentang hasil (PH) ialah informasi umpanbalik
yang bisa diungkapkan secara verbal maupun non-verbal, berkenaan
dengan hasil atau outcome
dari suatu gerakan dikaitkan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Setelah
seorang siswa berhasil melakukan pukulan smash yang keras dalam permainan bola voli, dan guru yang
bersangkutan mengatakan "pukulanmu keras dan timingnya tepat merupakan
umpanbalik bersifat verbs yang disampaikan langsung setelah peragaan gerak
selesai. Acungan jempol seorang pelatih kepada seorang pemain
sepakbola
yang berhasil nenembak
bola dari posisi
sulit (misalnya, sudut tembakannya sempit dan penjagaan
lawan ketat),
juga merupakan umpanbalik hasil tapi bersifat nonverbal. Pemain yang dicapainya
amat bagus. Kedua contoh tersebut merupakan deskripsi lebih lanjut tentang
dimensi umpanbalik tentang hasil yang bersifat independen,
saling
terkait dengan dimensi lain. Kadang-kadang, umpannbalik hasil lebih bersifat
spesifik atau bersifat umum. Umpanbalik tentang hasil bias juga
dianggap sebagai komponen hadiah, seperti dalam komentar pelatih "Sangat
bagus."
Perlu ditegaskan di sini, pengertian umpanbalik tentang hasil jangan dikacaukan dengan umpanbalik tentang pelaksanaan.gerakan yang bersangkutan (misalnya, lututmu bengkok waktu melakukan hand stand dalam senam ). Biasanya, kedua hal tersebut (dan pola gerak) dapat di- pisahkan, meskipun sering terjadi, betapa sulit memisahkan kedua ma-cam umpanbalik tersebut. Bahkan, keduanya dianggap menjadi satu. Pengetahuan tentang hasil sering juga disebut umpanbalik informasi (Bilodeau, 1966), atau faktor penguat (reinforcement). Schmidt (1988) sendiri cenderung mengungkapkan pengertian pengetahuan tentang hasil sebagai umpanbalik ekstrinsik yang bersifat verbal, terminal, dalam kaitannya dengan pencapaian saru tujuan.
Perlu ditegaskan di sini, pengertian umpanbalik tentang hasil jangan dikacaukan dengan umpanbalik tentang pelaksanaan.gerakan yang bersangkutan (misalnya, lututmu bengkok waktu melakukan hand stand dalam senam ). Biasanya, kedua hal tersebut (dan pola gerak) dapat di- pisahkan, meskipun sering terjadi, betapa sulit memisahkan kedua ma-cam umpanbalik tersebut. Bahkan, keduanya dianggap menjadi satu. Pengetahuan tentang hasil sering juga disebut umpanbalik informasi (Bilodeau, 1966), atau faktor penguat (reinforcement). Schmidt (1988) sendiri cenderung mengungkapkan pengertian pengetahuan tentang hasil sebagai umpanbalik ekstrinsik yang bersifat verbal, terminal, dalam kaitannya dengan pencapaian saru tujuan.
d.
Pengetahuan tentang Penampilan (PP)
Dalam hal
ini, istilah
pengetahuan tentang penampilan (PP) diartikan sebagai informasi umpanbalik yang
berkenaan dengan pola gerak
yang
telah dilakukan seseorang (misalnya, kepalamu terlampau tegak; sikumu bengkok;
lututmu lurus,
dsb). Pengertian tersebut memudahkan kita untuk
membedakannya dengan jenis umpanbalik (pengetahuan tentang hasil).
Karena berkenaan dengan pola gerak yang telah dilakukan si pelaku, maka sering
terjadi, pola gerak itu sama sekali tak disadari oleh orang bersangkutan,
sehingga perlu diberitahukan oleh orang lain. Dengan demikian, pengetahuan
tentang penampilan gerak yang sering
kurang jelas bagi
siswa pada
dasarnya berupa umpanbalik yang disampaikan oleh guru dalam rangka memperbaiki
kesalahan pola gerak untuk mencapai hasil yang lebih baik.Ketidakmampuan
siswa atau atlet menyadari penampilannya disebabkan
karena gerakan yang dilakukannya amat kompleks. Bahkan ada pula gejala biologis
lainnya yang tak disadari atau dipahami oleh orang yang bersangkutan, sehingga
perlu dijelaskan. Hal ini, tergolong biofeedback. Dalam
pelaksanaan pengajaran
atau kepelatihan pengetahuan
tentang hasil dan tentang proses merupakan jenis umpanbalik yang tidak sama, berdasarkan hasil
yang diperoleh.
2.2 Proses Belajar : Hukum Laterm dan Teori Belajar Motorik
Dalam masalah
belajar juga akan dibahas tentang fenomena perubahan keterampil, sekaligus
pengungkapan teori belajar motorik yang dikembangkan akhir-akhir
ini dan memperoleh pengakuan yang meluas, seperti teori Schema dari Schmidt.
2.2.1
Perubahan dalam Penampilan dan Hukum
Latihan (Practice)
Tak ada yang akan menolak, jika seseorang berlatih
maka akan meningkat penguasaan keterampilannya. Kadang-kadang peningkatan
tersebut tak begitu jelas, bahkan membutuhkan instrumen khusus untuk mengukur
atau menghomatinya.
Yang paling umum diterima ialah, bahwa ada kecenderungan yakni rata-rata
peningkatan dalam keadaan besar dan cepat pada
tahap awal, dan kemudian lambat laun semakin kecil
ketika latihan tetap terus dilanjutkan. Dengan kata lain, ada gejala bahwa
meskipun latihan berlangsung terus penampilan akan menurun. Jadi meskipun begitu, akan tampak
bahwa penampilan meningkat, tapi kurva penampilan itu berkecenderungan merosot
terus meskipun latihan tetap berkelanjutan tentang
keterampilan buruh pabrik melinting rokok dengan tangan
menunjukkan peningkatan terjadi setelah tujuh tahun dan setelah
100 juta
batang rokok. Rupanya, belajar itu tak pernah komplit, atau
benar-benar tuntas, kendatipun dalam tugas yang sederhana.
Berkenaanan dengan hukum latihan tersebut tadi, perlu kita pahami, hukum
tersebut hanyalah
sebagai deskripsi mengenai hubungan
antara jumlah trial dan penampilan, dan sama sekali tidak menjelaskan proses
yang terjadi di batik belajar. Penjelasan tentang proses belajar
akan kita paparkan dalam bagian berikut nanti.
2.2.2
Tahap-tahap Belajar Motorik
Ada kesamaan pendapat
para
ahli, bahwa belajar keterampilan motorik berlangsung melalui beberapa tahap.
Fitts (1964); Fitts & Posner, 1967) telah membahas tahap- tahap belajar
motorik yakni: (1) tahap kognitif, (2) tahap asosiatif, dan (3) tahap otomatis.
1.
Tahap Kognitif
Tatkala seseorang
baru mulai mempelajari sesuatu tugas,
katakanlah keterampilan motorik, maka yang menjadi
pertanyaan baginya ialah, bagaimana cara melakukan tugas itu. Dia membutuhkan
informan
mengenai cara melaksanakan tugas gerak yang bersangkutan. Karena itu, pelaksanaan
tugas gerak itu diawali dengan penerimaan informasi dan pembentukan pengertian,
termasuk bagaimana penerapan informasi atau pengetahuan yang diperoleh.
Pada tahap kognitif ini, sering juga terjadi
kejutan berupa peningkatan yang besar jika dibandingkan
dengan kemajuan pada tahap-tahap berikutnya. Pada
tahap itu juga, bukan mustahil siswa yang bersangkutan mencoba-coba dan
kemudian sering juga salah dalam melaksanakan tugas. . Gerakannya
memang masih nampak kaku, kurang terkordinasi, kurang
efisien, bahkan hasilnya tidak konsisten. Sebagai contoh, seorang pemula. dalam
bulutangkis mampu melakukan pukulan service yang "halus" (yakni cock
melayang rendah di alas faring dan masuk ke petak serice), namun keterampilan
tersebut hanya sekali-kali dapat dilakukannya. Si pelaku
masih mencari-cari hubungan antara cara melaksanakan dan hasil yang dicapai.
Karena itu, masih belum terbentuk satu pola gerak yang konsisten. Siswa yang
bersangkutan dihadapkan
dengan tugas yakni siapa yang harus
dilakukan, sehingga tahap pertama ini oleh Adams disebut tahap verbal- motor.
2. Tahap
Asosiatif
Setelah tahap
pertama, secara deskriptif dapat dijelaskan, berlangsung
tahap kedua yang disebut tahap asosiatif. Permulaan dari tahap
ini ditandai oleh
semakin efektif cara-cara siswa melaksanakan tugas gerak, dan dia mulai mampu
menyesuaikan diri dengan ketentraman yang
dilakukan. Akan nampak, penampilan yang terkordinasi dengan perkembangan yang terjadi secara bertahap dan lambat laun
gerakan semakin konsisten.
Jika seorang
pemula belajar menembakkan bola ke dalam ring dalam permainan bola basket hanya
hampu memasukkan 2-3 tembakan dari kesempatan, maka memasuki tahap asosiatif
ini, dia makin paham tentang misalnya berapa kira-kira
daya
yang harus dikerahkan, atau bagaimana peranan dari
pergelangan kaki dan jari-jari untuk mengendalikan bola. Gerakannya tidak lagi
untung-untungan, tapi makin konsisten. Artinya, gerakannya makin terpola, dan
dia semakin menyadari kapan
antara gerak dan hasil yang dicapai.
Pada tahap ini, seperti dikemukakan
beberapa penulis (misalnya, Adams, l971: Fitts. 1964), tahap verbal semakin
ditinggalkan dan si pelaku. memusatkan perhatiannya pada
aspek bagaimana melakukan pola gerak yang baik,
ketimbang mencari-cari pola mana yang akan
dihasilkan. Dalam eksperimen belajar motorik, tahap itu oleh Adams disebut
motor stage (tahap
motorik).
3. Tahap
Otomatis
Setelah-seseorang
berlatih selama beberapa hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, dia
memasuki tahap otomatis. Dikatakan demikian, karena keterampilan motorik yang
dilakukannya, dikerjakannya secara otomatis. Dikatakan demikian, karena
pelaksanaan tugas gerak yang bersangkutan tak seberapa terganggu oleh kegiatan
lainnya yang terjadi secara simultan. Seorang pengetik yang mahir misalnya,
mampu dengan lancar mengetik tanpa melihat huruf-huruf
ketikan, sementara dia memperhatikan naskah yang sedang diketiknya. Seorang pemain
bola basket yang telah mahir, mampu menembakkan bola secara efektif ke ring,.
meskipun dalam keadaan posisi yang sulit, misalnya karena dihadang ketat oleh lawan. Yang
menarik bagi kita ialah dalam melaksanakan tugas
itu, si
pelaku tak seberapa banyak menumpahkan perhatiannya kepada tugas yang sedang
dikerjakannya. Tentu saja banyak keuntungannya,
yakni si pelaku dapat. memproses informasi
tentang aspek lain yang juga penting seperti
taktik bermain, misalnya
dalam teknis
bermain bulutangkis pemain berkosentrasi
pada
penampilan. Masalah
belajar motorik pada tingkat yang lebih tinggi tersebut hampir-hampir tak terteliti.
Persoalannya, barangkali terkait dengan kesulitan yang dialami ketika eksperimen
berlangsung, termasuk
kesukaran dalam menjalin kerjasama
dengan para
subjek agar tetap bersedia terlibat dalam kegaitan penelitian. Karena itu, yang pernah
ditempuh ialah studi alamiah terhadap
penampilan siswa. Tentu saja prosedur.semacam ini menghadapi kelemahan seperti
beberapa varibel
internal tak dapat dikontrol untuk memperoleh pengertian
ilmiah yang
cermat tentang proses belajar. Memang ada usaha untuk menelaah masalah otomatisasi
gerakan seperti yang dilakukan oleh Schneider dan kawan-kawannya
(1985; Schneider & Fisk 1,983) dalam tugas yang
menekankan waktu reaksi, namun sayangnya studi dalam belajar motorik cenderung
mengensampingkan
persoalan tersebut (Schmidt, 1988). Karena itu, wilayah masalah tersebut sangat
menarik untuk diteliti.
2.2.3 Kombinasi Keterampilan
Lama dan Baru
Meskipun tidak .banyak usaha untuk
meneliti secara cermat, tapi sungguh masuk akal, bahwa suatu keterampilan yang
dianggap
baru bagi orang dewasa, sesungguhnya bukan benar-benar baru,
tapi merupakan kombinasi dari ketrampilan yang telah dipelajarinya pada waktu
sebelumnya. Dengan kata lain, meskipun keterampilan yang dipelajari itu
"baru" tapi keterampilan tersebut pada dasarnya hanya dapat dikerjakan
karena seseorang telah menguasai suatu keterampilan pada waktu sebelumnya. Di
antara keterampilan tersebut, ada yang distruktur
kembali atau bahkan mungkin sekali sebagian di antaranya merupakan basis bagi
penguasaan gerak yang dianggap baru. Ini berarti, keterampilan manusia yang
dianggap penuh dengan berbagai.kemungkinan
dalam perwujudannya berkembang seumpama susunan dari
"lapisan-lapisan" keterampilan yang berkombinasi menjadi sebuah
keterampilan baru. Bahkan ada ide yang menyatakan, semua
belajar motorik telah berakhir kira-kira pada usia 4 tahun.(Schmidt, 1988).
2.2.4 Kapasitas Mendeteksi Kesalahan Gerak
Dalam penampilan keterampilan yang lebih
alamiah misalnya,
kita dapat mengamati penguasaan suatu keterampilan bermain didukung oleh pendeteksi
kesalahan tergantung pada jenis atau tipe tugas yang
dilakukan. Sehubungan
dengan hal
ini, maka dibedakan tipe gerakan yang cepat dan lambat
pengujiannya secara umum sebagai berikut. Dalam hal
gerakan yang cepat, studi yang dilakukan Schmidt dan Aftite (1972) yang
mempergunakan tugas timing balistik dimana, subjek menjalankan sebuah
slide dari satu posisi di sepanjang jarak 23 cm sehingga dapat ditempuh
waktu gerak hampir 150 milidetik, menghasilkan kesimpulan yang cukup meyakinkan.
Subjek diberi kesempatan untuk melakukan 170 trial dengan
mass latihan dua hari. Dengan prosedur tersebut subjek
membuat
sebuah gerakan, dan kemudian diminta untuk menaksir skornya data per milidetik. Kemudian kepada mereka diberitahukan
tentang hasil penampilannya atau PH dalam milidetik juga.
Skor yang disebutkan oleh subjek disebut kesalahan subjektif dan skor yang
sebenarnya disebut kesalahan objektif. Asumsi kedua peneliti ialah, jika si pelaku
memiliki kapabilitas untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi, maka kesamaan
atau kesesuaian
antara kesalahan subjektif dan kesalahan objektif semakin meningkat. Dengan
dernikian, skor subjek sendiri dapat dijadikan penaksir yang cermat bagi
penampilan subjek yang sebenarnya.
Bagaimana hasil analisis statistik yang mereka peroleh. Pada blok pertama. rata-rata korelasi sekitar 0,28 yang berarti korelasi antara kesalahan subjektif dari objektif dalam keadaan lemah. Namun tatkala latihan diteruskan, rata-rata korelasi meningkat hingga pada tahap kedua mendekati 1.0. Data ini menunjukkan bahwa siswa semakin peka terhadap kesalahannya melalui perkembangan dari proses deteksi kesalahan.
Bagaimana hasil analisis statistik yang mereka peroleh. Pada blok pertama. rata-rata korelasi sekitar 0,28 yang berarti korelasi antara kesalahan subjektif dari objektif dalam keadaan lemah. Namun tatkala latihan diteruskan, rata-rata korelasi meningkat hingga pada tahap kedua mendekati 1.0. Data ini menunjukkan bahwa siswa semakin peka terhadap kesalahannya melalui perkembangan dari proses deteksi kesalahan.
Seperti dikupas oleh Schmidt (1988).
apakah prinsip yang melandasi gejala itu?
Seperti telah
diuraikan dalam teori sistem tertutup, si pelaku mempergunakan umpanbalik dari
gerakan itu sendiri dengan cara membandingkannya dengan rujukan benar salahnya
gerakan untuk menentu- kan suatu kesalahan setelah respons selesai. Jadi
deteksi kesalahan
tak berfungsi untuk menghasilkan suatu tindakan, dan mekanisme tersebut hanya untuk
mengevaluasi gerakan setelah selesai dilakukan. Sebagaimana ulasan terdahulu,
waktu sama sekali tak cukup, untuk memanfaatkan umpanbalik sebagai bahan untuk
mengoreksi gerakan ketika sedang berlangsung. Yang lebih
sesuai ialah, koreksi dilakukan setelah suatu gerakan terlaksana sepenuhnya.
Prinsip, tersebut di atas tentu tak
berlaku bagi gerakan yang lambat. Berbeda dengan pelaksanaan gerakan yang cepat,
rupanya kapabilitas mendeteksi error ikut bertanggunggung jawab dalam
menghasilkan tindakan dalam tipe gerakan yang lambat. Schmidt (1988) pada
dasarnya berpendapat (atas dasar bukti- bukti yang ada) bahwa proses deteksi kesalahan
dipakai untuk menentukan posisi anggota tubuh dalam gerakan yang
lambat. Nilai praktis dari pengembangan teori, tersebut ialah pemanfaatan
kemampuan si pelaku untuk
mendeteksi kesalahan yang terjadi. Ini berarti, ada
peluang uniuk memanfaatkan kapabilitas tersebut sebagai pengganti umpanbalik
tentang hasil yang sebenarnya. Dengan demikian, guru atau pelatih dapat
merangsang kemampuan siswa error yang dilakukannya tanpa untuk mampu mendeteksi
atau menaksir harus tergantung pada hasil yang
sebenarnya. Tentu saja, seberapa jauh efektivitas prosedur tersebut bagi peningkatan keterampilan membutuhkan bukti-bukti
yang cukup bukan saja
dari kondisi laboratorium tapi
juga
dari penampilan seseorang dalam situasi olahraga di lapangan. Selain itu, ide
penting rupanya ialah, perlunya pengembangan kepekaan dan kesadaran siswa
terhadap gerak yang dilakukannya, sehingga dia dapat memahami
kesalahan yang terjadi.
Bukti-bukti tentang efektivitas kapabilitas
mendeteksi error itu terungkap dari studi Hogan dan
Yanowitz (1978) yang memberikan tugas kepada subjek untuk mengestimasi
kesalahan mereka sebelum memperoleh PH pada
setiap trial dalam tugas timing balistik. Hasilnya ialah tak ada perbedaan yang
nyata antara kedua kelompok. Baru-baru ini Schmidt dan
Shapiro (1986) mengulang kembali studi dengan memperhalus
paradigms Hogan-Yanowitz, kecuali pemakaian tugas yang berbeda. Hunt (1982)
mempelajari gejala tersebut dalam belajar verbal. Seperti dilaporkan Schmidt
(1988), secara keseluruhan
ada bukti-bukti yang cukup kuat untuk mendukung kesimpulan tentang peranan estimasi
error untuk penguasaan keterampilan yang efektif dalam keadaan PH tidak ada
pada tes
transfer. Tapi eksperimen tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang nyata,
sehingga membangkitkan keraguan terhadap generalisasi yang diperoleh.
2.2.5 Model Me'rarkht Kontrol
Dalam bagian ini kita mengulang kembali
kupasan tentang hierakhi dari kontrol terhadap gerakan. Ide tentang perilaku
motorik berjenjang
menjelaskan, pada
tingkat yang lebih tinggi dari sistem tanggung jawabnya ialah untuk membuat
keputusan, dan pad tingkat yang lebih rendah tanggung jawabnya ialah untuk
melaksanakan keputusan. Kalau kita tinjau kembali pada pemrosesan
informasi, maka proses pembuatan keputusan it dianggap sebagai
jenjang "lebih tinggi" ketimbang aparat pemogram motorik. Era pada jenjang itu akan
terjadi melalui latihan, kontrol motorik secara sistematis
beralih dari tingkat yang tinggi ke yang lebih rendah datar, sistem melalui
latihan (Schmidt, 1988).
2.2.6 Penciptaan Gerakan Otomatis
Ada dua pandangan yang dapat kita kemukakan di sini
untuk menjelaskan
gejala gerakan otomatis. Pertama, yang sudah
lazim dikenal ialah struktur
pemrosesan informasi yang khusus pada dasamya dipelajari melalui latihan, dan
struktur tersebut menangani pemrosesan informasi yang dibutuhkan dari semua
tugas, seperti seleksi respons dan seterusnya. Masing-masing dari proses
tersebut dapat berlangsung jika terdapat kondisi rangsang yang memadai dan
kemudian dipacu untuk
menjelma menjadi.tindakan tanpa kesadaran. Jika seseorang mampu menangani
pemroses informasi semacam itu, maka si pelaku mengurangi faktor gangguan dari
aktivitas kognitif lainnya yang bersaing sehigga suatu
tugas dapat dilakukan tanpa gangguan dari tugas sekunder.
Pandangan yang kedua seperti
dikemukakan Schmidt (1988) sendiri ialah dalam suatu tugas
yang
dapat
diprediksi dan terjadi secara berulang-ujlang sehingga
terdapat kocederungan
yang bersifat umum
misalnya,
jika cocok jatuh "berguling" di alas faring, dua alternatif utama yang dapat dilakukan pemain ialah melakukan
permainan net atau mengangkat bola tinggi-tinggi ke atas, maka rupanya bisa
terjadi pergeseran
kontrol kesadaran dari taraf yang lebih tinggi ke tingkat kontrol program
motorik yang lebih rendah. Dalam suatu tugas yang sudah dianggap rutin karena
sama polanya atau yang sebelumnya dapat diprediksi, maka akan dapat dilakukan
antisipasi terhadap rangsang yang datang.
Kecenderungannya, si pelaku tidak serta merta mampu melakukan respons secara
langsung terhadap rangsang yang muncul, tapi jauh.
2.2.7 Teori Belajar Motorik
Dalam bagian ini
akan dibahas
dua macam teori belajar motorik yang dianggap ekslusif dan
dikembangkan pada tahun-tahun terakhir ini dengan maksud untuk mengungkapkan
faktor di balik
proses belajar dari
sudut pandangan. Yang pertama ialah teori.belajar motorik yang dikembangkan
oleh Adams dan
selanjutnya teori Schema yang
dikembangkan oleh Schmidt. Prinsip-prinsip dasar kedua teori
ini terutama tentang sistem pengontrolan
gerak : terbuka
atau tertutup.
1.
Teori Adams
Ketiadaan paradigma
yang kukuh dalam pengembangan teori belajar motorik
rnendorong Adams untuk mengembangkan teori belajar motorik yang disebutkannya
dalam istilah teori belaiar motorik sistem tertutup (closed-loop theory)
(Adams. 1971).
Seperti telah dikemukakan,
dalam sistem tertutup, umpanbalik dimanfaatkan untuk kemudian dicocokkan dengan
rujukan. Konsep utama dari teori Adams yakni mekanisme rujukan atau rujukan
benar salahnya suatu gerakan. Artinya, gerakan yang telah dilakukan seseorang
dibandingkan dengan suatu kriteria. Dalam teori Adams mekanisme rujukan ini
beroperasi dalam sistem tertutup, tapi kemudian sebagai sebuah sistem terbuka
yang mengirimkan semua informasi yang dibutuhkan untuk memulai suatu gerakan.
Apa yang dimaksud dengan formasi jejak
perseptual dalam teori Adams? Ambil contoh, manakala seseorang telah melakukan
suatu tugas gerak, katakaniah menggeser sebuah slide hingga jarak tertentu pada
posisi mendatar lurus, maka dihasilkan rangsang
umpanbalik intrinsik. Rangsang
ini meninggalkan
bekas atau jejak dalam sistem persyaratan (karena itu
disebut jejak perseptual). Dengan diulang- ulanginya respons beberapa kali,
maka seseorang semakin mendekati target yang. ditetapkan dan pada setiap trial
membekaslah jejak yang berbeda, sehingga terjadi semacam koleksi jejak. Selain
itu, berkat penyediaan.umpanbalik berupa pengetahuan tentang hasil (PH), maka
seseorang semakin mendekati target, dan setiap trial menyediakan umpanbalik
berupa gerakan yang benar atau tepat. Setiap kali
seseorang mencoba,
maka semakin kuat jejak perseptual yang berarti semakin berkurang kemungkinan
kesalahan yang terjadi.
Adam menolak peranan PH sebagai
reinforcement, karena PH dianggap semata-mata sebagai hadiah. Menurut Adams,
siswa bukan sebagai penerima hadiah pasif, tapi secara aktif terlibat dalam
verbalisasi dan pembentukan hipotesis mengenai tugas yang akan dipelaiari. Bagi
Adams, PH memberikan informasi untuk memecahkan masalah.
Setelah sebuah trial dilakukan, PH disampaikan, sehingga sehingga PH bagi Adams memiliki fungs bimhigan. Pada tahap awal belajar, siswa mempergunakan PH dalam kaitannya dengan jejak perseptual untuk melakukan gerakan yang semakin cermat.
Setelah sebuah trial dilakukan, PH disampaikan, sehingga sehingga PH bagi Adams memiliki fungs bimhigan. Pada tahap awal belajar, siswa mempergunakan PH dalam kaitannya dengan jejak perseptual untuk melakukan gerakan yang semakin cermat.
Adams juga menjelaskan bagaimana siswa
mengembangkan kapabilitas mendeteksi error. Dia menjelaskan, setelah suatu
gerakan rampung dilakukan, seseorang akan membandingkan umpanbalik yang diterimanya
dengan jejak perseptual, dan perbedaan yang terjadi merupakan error yang akan
ditanggapi oleh siswa yang bersangkutan. Karena itu, dipakai istilah
reinforcement subjektif untuk menuntun gerak menuju suatu target tanpa
penggunaan PH. Menurut teori Adams, pengarahan gerak ke arah target yang dituju
dapat menghasilkan perubahan karena umpanbalik terus
menerus menambah jejak perseptual.
Selanjutnya, agak berbeda dengan teori sebelumnya, Adams me- nambahkan bahwa untuk memperoleh kapasitas sistem mendeteksi error, dua memori harus hadir satu untuk memproduksi tindakan dan satu lagi untuk mengevaluasi hasil yang diperoleh. Menurut Adams meskipun jejak perseptual merupakan wakil dari respons yang benar, dan gerakan diseleksi dan diawali oleh keadaan memori lainnya yang disebut Adams "jejak memori", sebuah "program motorik pencegah." bertanggung jawab untuk memilih dan mengarahkan tindakan, memulainya dan menuntunnya agar tak lepas dari target. Kemudian, jejak perseptual mengambil alih kendali kontrol terhadap gerak yang menyebabkannya sampai pada lokasi target yang diharapkan. Yang menarik dari teori Adams ini ialah bahwa error yang dihasilkan selama latihan berlangsung negatif efeknya terhadap belajar. Hal ini disebabkan karena, jika suatu error dilakukan, umpanbalik yang diperoleh darinya tentu akan sangat berbeda dengan apa yang didapat dari gerakan yang benar, dan karena itu pula maka jejak perseptual akan mengalami sedikit cacad. Karena itu, implikasi terpenting ialah, bimt¬bingan harus diberikan dalam belajar gerak untuk menghindari.kesalahan.
Selanjutnya, agak berbeda dengan teori sebelumnya, Adams me- nambahkan bahwa untuk memperoleh kapasitas sistem mendeteksi error, dua memori harus hadir satu untuk memproduksi tindakan dan satu lagi untuk mengevaluasi hasil yang diperoleh. Menurut Adams meskipun jejak perseptual merupakan wakil dari respons yang benar, dan gerakan diseleksi dan diawali oleh keadaan memori lainnya yang disebut Adams "jejak memori", sebuah "program motorik pencegah." bertanggung jawab untuk memilih dan mengarahkan tindakan, memulainya dan menuntunnya agar tak lepas dari target. Kemudian, jejak perseptual mengambil alih kendali kontrol terhadap gerak yang menyebabkannya sampai pada lokasi target yang diharapkan. Yang menarik dari teori Adams ini ialah bahwa error yang dihasilkan selama latihan berlangsung negatif efeknya terhadap belajar. Hal ini disebabkan karena, jika suatu error dilakukan, umpanbalik yang diperoleh darinya tentu akan sangat berbeda dengan apa yang didapat dari gerakan yang benar, dan karena itu pula maka jejak perseptual akan mengalami sedikit cacad. Karena itu, implikasi terpenting ialah, bimt¬bingan harus diberikan dalam belajar gerak untuk menghindari.kesalahan.
Sebagai murid yang brilian,
Schmidt mencoba untuk menganalisis keterbatasa teori
Adams. Titik tolak analisisnya ialah, dalam teori Adams nampak ketidak bulatan
teori karena ada hal yang nampak tidak konsisten secara logika. Jejak
perseptual bagi Adams ialah konsep kunci karena jejak perseptual memungkinkan
seseorang dapat (a) menentukan letak anggota badannya
yang benar, dan (b) sebagai dasar untuk mengetahui seberapa jauh suatu gerakan
meleset dari lokasi yang ditetapkan setelah keseluruhan gerak selesai. Schmidt
(1975) mengemukakan argumentasi, jika jejak perseptual merupakan satu-satunya
pemandu gerak, ini
berarti tidak dibutuhkan informasi tambahan mengenai error yang terjadi. Russel
(1974) mengetengahkan bukti bahwa tak ada mekanisme mendeteksi error setelah
respons melakukan posisi lambat, meskipun telah dilakukan 100 kali, suatu hal
yang bertentangan dengan teori Adams. Adams
sendiri tak membedakan gerakan yang lambat dan yang cepat, meskipun kedua tipe
gerakan tersebut
mempergunakan mekanisme deteksi error yang berbeda (misalnya, 'Newell, 1976).
Menurut Schmidt (1988) keterbatasan
teori Adams yakni hanya terbatas pada fenomena
gerakan lambat. Selain itu, salah satu kelemahan utama teori Adams yakni
bertentangan dengan beberapa bukti tentang diferensiasi
atau pemutusan syaraf diferent. Bukti
penelitian menunjukkan, bahwa organisme yang dalam
keadaan tak memperoleh umpanbalik sensorik dari anggota
badannya masih mampu untuk melakukan respons dengan terampil (meskipun sedikit
menurun), dan bahkan mempelajari kegiatan baru (misalnya, Taub & Berman,
1968). Pandangan tersebut disanggah kembali oleh Adams (1976b) dengan suatu
pendapat bahwa bisa jadi hewan mengalihkan sumber lain umpanbalik seperti
penglihatan sebagai pengganti dari hilangnya sensasi dari anggota tubuh yang
memberikan respons. Teori Adams mengabaikan eksistensi pembangkit pola sentral,
suatu struktur yang nampaknya berkemampuan untuk menimbulkan satu aksi yang kompleks
tanpa memanfaatkan umpanbalik.
2.
Teori
Schema
Pada tahun 1975, karena tidak pugs
dengan teori Adams yang bertahan sampai 16 tahun sebagai rujukan, Schmidt
mengembangkan teori baru yang kini di Amerika diterima cukup luas
sebagai teori belajar motorik. Yang menjadi sorotan Schmidt, teori Adams mengabaikan
sistem terbuka,
dan karena itu teori Schema menekankan sistem terbuka. Meskipun disebut baru,
Schmidt sendiri mengakui basis teori Schema ialah beberapa konsep yang sudah
dirintis oleh teori Adams. Yang masih dipandang efektif dipertahankan dan yang
dianggap rapuh ditinggalkan. Perbedaan lain yang nyata antara teori Schema
dengan ngan teori Adams, yakni teori "baru" itu menekankan pokok pikiran
tentang proses belajar baik yang terdapat
dalam gerakan lambat maupun cepat.
Konsep sentral dalam teori schema ialah dua keadaan memori, yaitu,. (1) memori recall yang bertanggung jawab untuk memproduksi gerakan, dan (2) memori rekognisi yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi respons. Sebagai contoh, dalam gerakan balistik, memori recall terlibat dengan program motorik dan paramater, jauh sebelumnya distruktur untuk melaksanakan suatu gerakan dengan keterlibatan yang amat minim dari umpanbalik periperal. Di lain pihak, memori rekognisi ialah sistem sensoris yang berkemampuan untuk mengevaluasi respons yang dihasilkan umpanbalik setelah suatu gerakan selesai dilaksanakan. Karena itu, kepada subjek diberitahukan error yang terjadi (Schmidt, 1938).
Konsep sentral dalam teori schema ialah dua keadaan memori, yaitu,. (1) memori recall yang bertanggung jawab untuk memproduksi gerakan, dan (2) memori rekognisi yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi respons. Sebagai contoh, dalam gerakan balistik, memori recall terlibat dengan program motorik dan paramater, jauh sebelumnya distruktur untuk melaksanakan suatu gerakan dengan keterlibatan yang amat minim dari umpanbalik periperal. Di lain pihak, memori rekognisi ialah sistem sensoris yang berkemampuan untuk mengevaluasi respons yang dihasilkan umpanbalik setelah suatu gerakan selesai dilaksanakan. Karena itu, kepada subjek diberitahukan error yang terjadi (Schmidt, 1938).
Dalam gerakan lambat, memori recall
dianggap tak memiliki peranan apa-apa, dan persoalan umum bagi siswa ialah membandingk4n
umpanbalik
dengan rujukan benar salahnya gerakan. Dalam, tipe
gerakan lambat, recall berfungsi untuk mendorong anggota tubuh seseorang dengan
daya dorong yang kecil, dan seseorang akhirnya berhenti, manakala
umpanbalik dan rujukan gerak ada kesesuaiannya barangkali inti dari teori Schema ialah ide
tentang generalisasi program motorik (semacam program Master), suatu struktur
yang dapat mengatur tempo dan menetapkan daya relatif dengan paramater
dibutuhkan untuk menetapkan program yang akan dilaksanakan.
Apakah konsep schema itu baru?
Konsep Schema
tergolong salah satu konsep tua dalam psikologi, diperkenalkan oleh Head (1926)
dan kemudian dipopulerkan oleh Bartlett (1932). Menurut Bartlett, Schema
adalah suatu memori yang abstrak yang mewakili peristiwa awal atau suatu keterampilan, dianggap
sebagai konsep atau generalisasi. Selanjutnya, popularitas ide itu pudar sejak
tahun 1940-an hingga 1960-an, namun kemudian minat terhadap konsep itu muncul
kembali melalui eksperimen yang dilakukan oleh Posner dan Keels (1966). Schmidt
sendio mencoba untuk menerapkan ide itu dalam konteks belajar motorik dikombinasi
dengan ide tentang generalisasi program motorik
Dalam rangka menjelaskan proses belajar ketrampilan motorik, Schmidt (1988) mengemukakan beberapa unsur dari teorinya. Pertama, setelah suatu gerakan dibuat oleh generalisasi program motorik, maka seseorang dalam waktu singkat menyimpan empat hal: (1) kondisi awal (misalnya posisi tubuh, perpindahan titik berat badan, dan sebagainya), siswa menyimpan parameter yang disiapkan bagi generalisasi program motorik; (3) hasil gerakan dalam pengertian PH disimpan; dan (4) siswa menyimpan konsekuensi sensoris dari gerakan (misalnya bagaimana rasanya gerakan, bagaimana suaranya, dan seterusnya). Keempat sumber itu disimpan siswa dalam "benaknya" selama periode tertentu hingga kemudian dia dapat membayangkan atau mengabstraksi relasi antara keempat unsur itu. Kedua relasi yang terjadi, atau Schema, dianggap telah terbentuk.
Dalam rangka menjelaskan proses belajar ketrampilan motorik, Schmidt (1988) mengemukakan beberapa unsur dari teorinya. Pertama, setelah suatu gerakan dibuat oleh generalisasi program motorik, maka seseorang dalam waktu singkat menyimpan empat hal: (1) kondisi awal (misalnya posisi tubuh, perpindahan titik berat badan, dan sebagainya), siswa menyimpan parameter yang disiapkan bagi generalisasi program motorik; (3) hasil gerakan dalam pengertian PH disimpan; dan (4) siswa menyimpan konsekuensi sensoris dari gerakan (misalnya bagaimana rasanya gerakan, bagaimana suaranya, dan seterusnya). Keempat sumber itu disimpan siswa dalam "benaknya" selama periode tertentu hingga kemudian dia dapat membayangkan atau mengabstraksi relasi antara keempat unsur itu. Kedua relasi yang terjadi, atau Schema, dianggap telah terbentuk.
Schema yang dimaksud,
pertama disebut Schema
recall, yang bertanggung jawab terhadap produksi gerak. Yang kedua
adalah, schema rekognisi, yang dianggap bertanggung jawab untuk mengevaluasi
hasil gerakan. Sebelum
gerakan dilakukan, individu memilih hasil gerakan dan menentukan kondisi awal.
Kemudian, dengan schema rekognisi, individu dapat mengestimasi konsekuensi
sensoris yang akah terjadi apabila gerakan itu dihasilkan. Hal ini disebut konsekuensi
sensoris yang diperkirakan. Keseluruhan sistem
terlukis dalam proses yang terjadi sejak kondisi awal dan hasil akhir. Bagi
gerakan yang cepat, kondisi awal dan hasil yang diinginkan dimasukkan sebagai
bahan masukan bagi sistem dan kemudian diteruskan.ke parameter
dan konsekuensi
sensoris yang diperkirakan. Setelah gerakan di
"nyalakan" oleh program, informasi sensoris dari anggota tubuh dan lingkungan
diterima kembali dan kemudian dibandingkan dengan keadaan yang diharapkan, setiap error yang terjadi dilevel
label dan kemudian dikirimkan kombati ke mekanisme pemrosesan
informasi sebagai reinforcemet subjektif.
Dalam gerakan lambat, reinforcement
subjektif dipergunakan untuk menghasilkan suatu tindakan. Dalam situasi
demikian, sumber-sumber
umpanbalik yang diekspektasikan
mewakili kriteria benar salahnya gerakan, dan umpanbalik
dibandingkan terhadap mereka untuk kemudian menghasilkan informasi tentang
error yang terjadi selama gerakan berlangsung. Individu yang
selanjutnya menggerakkan sebuah yang terjadi
sekecil mungkin. Jadi, meskipun gerakan lambat secara aktif dihasilkan, rupanya
juga diatur oleh memori rekognisi dan Schema rekognisi.
Teori Scheffia
merupakan, alternatif teori Adams dalam memahami fenomena belajar motorik. Jika
dibandingkan dengan teori Adams, teori schema yang dikembangkan Schmidt lebih
memperhitungkan
macam-macam
tipe
gerak (lambat dan cepat), kapabilitas deteksi error, dan penjelasan tentang
bagaimana dihasilkan
suatu ketrampilan baru. Tentu saja, teori Schema
juga masih belum mampu mencakup semua penjelasan mengenai gejala belajar,
sehingga dibutuhkan upaya untuk memperkayanya dengan konsep baru.
Meskipun demikian,
teori itu dapat dipakai sebagai kerangka untuk memahami gejala belajar motorik.
BAB III
PENUTUP
Demikian yang dapat saya tuliskan
tentang materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan
makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi
kita semua serta bisa jadi panduan juga motifikasi dalam bidang belajar dan pembelajaran dengan
pahamnya dan peresapan dalam belajar motorik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar