Senin, 30 Januari 2012

pendidikan


Nama                   : Rosmayandi
Nim                      : A1A110065
TTL                      : Jambi, 09 Mei 1992
Alamat                 : Jl. Raya Kasang Pudak Rt 09/04 No. 27 Kec. Kumpeh Ulu Kab. Muaro Jambi
Fakultas/prodi   : KIP/Pendidikan ekonomi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG PENULISAN
Belajar gerak secara khusus dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan atau modifikasi tingkah laku individu akibat dari latihan dan kondisi lingkungan (Drowatzky, 1981).
Schmidt (1988), menyatakan bahwa belajar gerak mempunyai beberapa ciri yaitu:
a. Merupakan rangkaian proses
b. Menghasilkan kemampuan untuk merespon.
c. Tidak dapat diamati secara langsung, bersifat relatif permanen
d. Sebagai hasil latihan
Adapun gerak dasar yang dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut:

Gagne, 1977:3 Belajar gerak adalah sebagai tingkah laku atau perubahan kecakapan yang mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu, dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Romiszowski, 1988:253 Belajar gerak adalah belajar yang diwujudkan melalui respon-respon maskular, yang pada umumnya diekspedisikan dalam gerak tubuh atau bagian tubuh.
Rabb, 1972 Belajar gerak merupakan suatu pengaturan kembali pola gerak dasar yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku gerak yang terjadia sebagai suatu hasil latihan.
Weineck,1983:71 Tugas utama dalam belajar gerak adalah penerimaan segala informasi yang relevan tentang gerakan-gerakan yang dipelajari kemudian mengolah dan menyusun informasi tersebut memungkinkan suatu realisai secara optimal.
Berdasarkan uraian diatas, maka saya ingin  membahas masalah  “Belajar Motorik”.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah Reinforcement dan umpanbalik itu?
2.      Apa Proses belajar : hukum laterm dan teori belajar motorik?
C.     TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Reinforcement dan umpanbalik serta Proses belajar : hukum laterm dan teori belajar motorik dalam mengahadapi masalah.
2.      Untuk mengupayakan agar tugas dan peran pokok seorang pelatih untuk membangun keterampilan gerak seorang atlet dengan baik yang pada akhirnya tujuan utama prestasi olahraga bisa tercapai.

D.    MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Dapat menjadi acuan mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Belajar Motorik.
2.      Dengan adanya makalah ini dapat membantu mahasiswa/i untuk lebih memahami Proses Belajar Motorik.




BAB II
PEMBAHASAN
           
2.1       Reinforcement dan Umpan Balik
Dalam beberapa prinsip dalam bidang kontrol motorik dari belajar motorik, penguasaan prinsip-prinsip yang relevan dengan proses belajar akan sangat membantu para guru atau pelatih untuk meningkatkan efektivitas pengajaran atau kepelatihan. Tujuan dari kegiatan tersebut pada dasarnya ialah perubahan perilaku pada siswa. Dan perubahan perilaku itu disebabkan karena siswa yang bersangkutan aktif dan memberikan respons terhadap seperangkat pengalaman atau tugas sebagai stimulus. Dalam hal ini akan dibahas konsep dan aplikasi reinforcement untuk memperkuat "koneksi" antara rangsang dan respons. Berkaitan dengan konsep reinforcement, kita bahas juga konsep dan pemanfaatan umpanbalik (feedback) dalam proses belajar keterampilan motorik.
          2.1.1    Pengertian Reinforcement dan Istilah Lainnya
Istilah reinforcement dan umpanbalik kadang-kadang dipahami sebagai dua istilah yang sama pengertiannya, meskipun tidak demikian. Bahkan ada lagi istilah lain yang agak mirip maknanya seperti hadiah, ppngetahuan tentang hasil, dan pengetahuan tentang penampilan. Pada suatu saat, beberapa istilah tersebut seperti serupa, namun dalam situasi lain sungguh berbeda pengertiannya.
Reinforcement berarti setiap kondisi, jika diikuti oleh suatu respons, meningkatkan peluang bahwa respons tersebut akan terjadi kembafi manakala rangsang yang sama diberikan (Oxendlne, 1984). Pada suatu saat, pemberian hadiah atau hukuman terhadap seorang siswa misalnya, dapat menghasilkan respons tertentu, sehingga hadiah atau hukuman itu dianggap sebagai reinforcement. Umpanbalik juga bisa ber-pengaruh demikian. Setelah disampaikan kepada siswa, maka bisa terjadi suatu respons tertentu menyusul umpanbalik tersebut. Situasi demikianlah yang menyebabkan, seolah-olah kabur sekali perbedaan antara beberapa konsep tersebut.
Namun demikian, seperti dikemukakan Travers (977), umpan-balik jatuh ke dalam kategori reinforcement, jika mengubah probabilitas suatu perilaku akan terulang atau berhenti sama sekali pada kejadian berikutnya. Sebaliknya, ada masanya bahwa beberapa faktor tersebut tak dapat dikaitkan dengan perilaku sposifik, dan karena itu tidak disebut sebagai reinforce. Karena itu, tak selalu hadiah atau hukuman berfungsi sebagai reinforcer yang efektif. Sebagai contoh, berulang kali seorang siswa terlambat datang dalam pelajaran pendidikan olahraga meskipun pada setiap saat itu dia memperoleh hukuman dari gurunya, umpamanya lari selama 12 menit. Hukuman tersebut tidak mempan untuk membuat siswa yang bersangkutan menghentikan kebiasaan datang terlambat. Sebaliknya, seorang pemain sepakbola yang merasa selalu berhasil menyelesaikan tendangan penalti dengan pelan tapi terarah tepat, akan mengulang-ulang teknik melaksanakan tendangan hukuman itu dengan cara tersebut ketimbang dengan tendangan keras. Cara menendang bola pelan tapi terarah itu berfungsi sebagai sebuah unsur penguat sehingga dalam kesempatan berikutnya, cara itu diulang-ulang kembali oleh pemain yang bersangkutan.
Unsur penguat itu ada yang berhentuk barang nyata, umpamanya makanan yang diberikan kepada binatang untuk memuaskan perasaannya terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dan bisa juga unsur penguat itu berupa perilaku tertentu. Sebagai contoh, setiap kali seorang pemain berhasil melakukan smash keras menyilang ke rusuk kiri lapangan lawannya dalam permainan bulitangkis, setiap kali itu pula penonton bertepuk tangan sebagai pertanda memberikan dukungan atau ucapan selamat atas keberhasilan pemain yang bersangkutan. Dalam kesempatan berikutnya, semakin riuh rendah tepuk tangan penonton, semakin sering pemain tersebut melakukan pola serangan tersebut. Jadi, sambutan penonton merupakah sebuah unsur penguat terhadap pemunculan perilaku tertentu dari pemain tersebut. Kadang-kadang, ada pemain yang tidak menyadari keadaan tersebut, sehingga dia dirusak oleh penonton dengan cara memberikan sambutan tepuk tangan secara berencana agar pemain melakukan smash dengan pola yang sama. Padahal, dia tidak harus selalu berbuat demikian, sehingga akhirnya, di antara sekian banyak serangannya itu, sebagian di antaranya gagal, seperti bola keluar, menyentuh faring, atau gampang dibaca.oleh lawan.
2.1.2    Umpanbalik    
Baik dalam olahraga pendidikan maupun olahraga prestasi, pengetahuan tentang hasil yang dicapai dan pelaksanaan tugas gerak dalam suatu cabang merupakan pencapaian tujuan yang diharapkan. Informasi tentang hasil atau penampilan dalam suatu cabang olahraga bermanfaat untuk membuat keputusan, khususnya dalam perencanaan lingkungan belajar atau berlatih yang efektif.
Ø  Klasifikasi Umpan Balik
Untuk memudahkan kita mengenai macam-macam umpanbalik yang terdapat dalam suasana mengajar, ada baiknya hal itu diklasifikasi. Dan kita menyadari, tidak semua informasi berkaitan.langsung dengan hasil pelaksanan gerak. Karena itu ada informasi yang relevan dan tidak relevan. Sebagai contoh, ketika kita berjalan tak ada sangkut pautnya dengan gerakan kita dengan sears mobil atau kendaraan lainnya yang gaduh. Selanjutnya, jika ditelaah aspek kedatangan umpanbalik itu sendiri, kita dapat membuat klasifikasi menjadi umpanbalik sebelum tindakan berlangsung, dan umpanbalik yang tersedia selarna atau sesudah tindakan selesai.
a. Umpanbalik intrinsik
          Umpanbalik yang dihasilkan oleh gerakan yang telah dilakukan terbagi menjadi dua kategori yakni; (1) umpanbalik intrinsik. dan (2) umpanbalik ekstrinsik. Setelah seseorang melakukan suatu gerakan dalam cabang olahraga tertentu, dia akan memperoleh informasi tentang beberapa aspek mengenai gerakannya sendiri melalui beberapa saluran informasi. Bentuk informasi tersebut sudah terkandung dalam respons teftentu. Sebagai contoh, saya mengetahui bahwa saya melakukan pukulan service yang salah dalam permainan tenis setelah saya melihat bola keluar atau menyangkut pads faring. Demikian juga halnya, tatkala punggung saya terhempas keras di air sesudah melakukan suatu gerakan dalam loncat indah, saya tahu ada gerakan yang salah. Kesimpulannya ialah, respons atau pelaksanaan dan hasil yang diperoleh merupakan sumber dari umpanbalik. Dan informasi tersebut terwujud dalam berbagai bentuk. Apakah umpanbalik intrinsik selalu kita sadari dan membutuhkan evaluasi? Tidak semua demikian. Kadang kala, saya tahu dan, saya lihat sendiri pukulan saya salah ketika menerima service keras dalam per.mainan tenis. Kesalahan yang terjadi serta merta saya ketahui dengan jelas. Namun ada pula umpanbalik intrinsik lainnya yang sukar dikenal, dan karena itu, si pelaku harus belajar untuk mengevaluasi informasi dan aspek yang terdapat di dalamnya. Sebagai contoh, ketika seorang pesenam berlatih Salto ke depan, maka pads waktu berputar di udara dia mungkin tak merasakan bahwa lututnya benar-benar ditekukan atau tidak.
          Untuk mengetahui benar salahnya suatu gerakan seperti dalam contoh tersebut di atas, dibutuhkan sebuah rujukan tentang gerakan yang benar. Karena itu, umpanbalik intrinsik pada dasarnya ialah suatu informasi yang diperoleh dengan membandingkan rujukan gerak yang telah dipelajari dengan apa yang baru saja dilakukan. Itulah sebabnya, proses deteksi kesalahan sendiri oleh si pelaku yang bersahgkutan disebut reinforcement sublektif (Adams, 1971; Adams & Bray, 1970). Rupanya tanpa rujukan tentang benar salahnya suatu gerakan, berbagai bentuk umpanbalik intrinsik tak dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi.
b. UmpanbaIik Ekstrinstik
                 Berbeda halnya dengan umpanbalik intrinsik (sudah melekat pada gerakan yang telah dilakukan), umpanbalik ekstrinsik adalah umpanbalik yang diperoleh tentang tugas gerak yang sifatnya sebagai pelengkap bagi siswa. Informasi ekstrinsik, sebagian di antaranya berupa informasi verbal, seperti catatan waktu dalam satuan detik atau mill-detik untuk pelari cepat 100 m, atau skor 1,00-10,00 untuk pesenam. Sorang pesenam yang memperoleh nilai 5,00 misainya akan dapat mengetahui, bahwa gerakan yang telah dilakukannya tergolong buruk, atau dia banyak melakukan kesalahan. Dengan demikian, skor kuantitatif itu dapat diucapkan secara verbal, bahkan diuraikan lebih terinci sebagai informasi yang menunjukkan tingkat keberhasilan seseorang melakukan suatu gerakan.
                 Umpanbalik seketika disampaikan pada waktu gerakan itu sedang dilakukan (misalnya, informasi tentang kesalahan posisi kaki ketika seorang pesenam sedang melakukan satu rangkaian gerakan dalam senam lantai), sementara umpanbalik terminal diberikan setelah seluruh gerakan selesai (misalnya, skor yang diperoleh pesenam). Aspek lain dari umpanbalik ekstrinsik yakni umpanbalik yang ditinjau dari saat penyampaiannya. Yang pertama disebut umpanbalik langsung dan umpanbalik tertunda. Umpanbalik itu ada yang berupa verbal (misalnya, komentar pelatih tentang benar salahnya suatu kesalahan) dan non-verbal (misalnya, berupa kode lambaian bendera merah jika seorang pelari jarak 1500 m berlari dengan kecepatan melebihi "irama kecepatan" yang telah direncanakan pada setiap putaran.
                 Ada pula informasi umpanbalik yang terhimpun secara keseluruhan dari beberapa penampilan terdahulu yang kemudian disampaikan sebagai gambaran umum tentang penampilan. Kebalikannya ialah informal Umpanbalik yang disampaikan secara terpisah bagi setiap penampilan gerak. Tentu saja, kesemua dimensi umpanbalik tersebut harus dianggap sebagai bagian yang tak terpisah satu sama lain. Sebagai contoh, sungguh mungkin, umpanbalik ekstrinsik yang disampaikan dalam waktu tertunda bisa berupa verbal atau nonverbal. Umpanbalik seketika bisa ber upa umpanbalik langsung atau tertunda. Pembagian yang dibuat hanyalah sebagai deskripsi analitik dari umpanbalik yang telah dikenal dan bisa diterapkan dalam kegiatarn olahraga.
c. Pengetahuan tentang Hasil (HP)
                 Yang dimaksud dengan pengetahuan tentang hasil (PH) ialah informasi umpanbalik yang bisa diungkapkan secara verbal maupun non-verbal, berkenaan dengan hasil atau outcome dari suatu gerakan dikaitkan dengan tujuan yang ingin dicapai. Setelah seorang siswa berhasil melakukan pukulan smash yang keras dalam permainan bola voli, dan guru yang bersangkutan mengatakan "pukulanmu keras dan timingnya tepat merupakan umpanbalik bersifat verbs yang disampaikan langsung setelah peragaan gerak selesai. Acungan jempol seorang pelatih kepada seorang pemain sepakbola yang berhasil nenembak bola dari posisi sulit (misalnya, sudut tembakannya sempit dan penjagaan lawan ketat), juga merupakan umpanbalik hasil tapi bersifat nonverbal. Pemain yang dicapainya amat bagus. Kedua contoh tersebut merupakan deskripsi lebih lanjut tentang dimensi umpanbalik tentang hasil yang bersifat independen, saling terkait dengan dimensi lain. Kadang-kadang, umpannbalik hasil lebih bersifat spesifik atau bersifat umum. Umpanbalik tentang hasil bias juga dianggap sebagai komponen hadiah, seperti dalam komentar pelatih "Sangat bagus."
Perlu ditegaskan di sini, pengertian umpanbalik tentang hasil jangan dikacaukan dengan umpanbalik tentang pelaksanaan.gerakan yang bersangkutan (misalnya, lututmu bengkok waktu melakukan hand stand dalam senam ). Biasanya, kedua ha
l tersebut (dan pola gerak) dapat di- pisahkan, meskipun sering terjadi, betapa sulit memisahkan kedua ma-cam umpanbalik tersebut. Bahkan, keduanya dianggap menjadi satu. Pengetahuan tentang hasil sering juga disebut umpanbalik informasi (Bilodeau, 1966), atau faktor penguat (reinforcement). Schmidt (1988) sendiri cenderung mengungkapkan pengertian pengetahuan tentang hasil sebagai umpanbalik ekstrinsik yang bersifat verbal, terminal, dalam kaitannya dengan pencapaian saru tujuan.
d. Pengetahuan tentang Penampilan (PP)
                 Dalam hal ini, istilah pengetahuan tentang penampilan (PP) diartikan sebagai informasi umpanbalik yang berkenaan dengan pola gerak yang telah dilakukan seseorang (misalnya, kepalamu terlampau tegak; sikumu bengkok; lututmu lurus, dsb). Pengertian tersebut memudahkan kita untuk membedakannya dengan jenis umpanbalik (pengetahuan tentang hasil). Karena berkenaan dengan pola gerak yang telah dilakukan si pelaku, maka sering terjadi, pola gerak itu sama sekali tak disadari oleh orang bersangkutan, sehingga perlu diberitahukan oleh orang lain. Dengan demikian, pengetahuan tentang penampilan gerak yang sering kurang jelas bagi siswa pada dasarnya berupa umpanbalik yang disampaikan oleh guru dalam rangka memperbaiki kesalahan pola gerak untuk mencapai hasil yang lebih baik.Ketidakmampuan siswa atau atlet menyadari penampilannya disebabkan karena gerakan yang dilakukannya amat kompleks. Bahkan ada pula gejala biologis lainnya yang tak disadari atau dipahami oleh orang yang bersangkutan, sehingga perlu dijelaskan. Hal ini, tergolong biofeedback. Dalam pelaksanaan pengajaran atau kepelatihan pengetahuan tentang hasil dan tentang proses merupakan jenis umpanbalik yang tidak sama, berdasarkan hasil yang diperoleh.

2.2       Proses Belajar : Hukum Laterm dan Teori Belajar Motorik
                        Dalam masalah belajar juga akan dibahas tentang fenomena perubahan keterampil, sekaligus pengungkapan teori belajar motorik yang dikembangkan akhir-akhir ini dan memperoleh pengakuan yang meluas, seperti teori Schema dari Schmidt.
          2.2.1    Perubahan dalam Penampilan dan Hukum Latihan (Practice)
Tak ada yang akan menolak, jika seseorang berlatih maka akan meningkat penguasaan keterampilannya. Kadang-kadang peningkatan tersebut tak begitu jelas, bahkan membutuhkan instrumen khusus untuk mengukur atau menghomatinya. Yang paling umum diterima ialah, bahwa ada kecenderungan yakni rata-rata peningkatan dalam keadaan besar dan cepat pada tahap awal, dan kemudian lambat laun semakin kecil ketika latihan tetap terus dilanjutkan. Dengan kata lain, ada gejala bahwa meskipun latihan berlangsung terus penampilan akan menurun. Jadi meskipun begitu, akan tampak bahwa penampilan meningkat, tapi kurva penampilan itu berkecenderungan merosot terus meskipun latihan tetap berkelanjutan tentang keterampilan buruh pabrik melinting rokok dengan tangan menunjukkan peningkatan terjadi setelah tujuh tahun dan setelah 100 juta batang rokok. Rupanya, belajar itu tak pernah komplit, atau benar-benar tuntas, kendatipun dalam tugas yang sederhana. Berkenaanan dengan hukum latihan tersebut tadi, perlu kita pahami, hukum tersebut hanyalah sebagai deskripsi mengenai hubungan antara jumlah trial dan penampilan, dan sama sekali tidak menjelaskan proses yang terjadi di batik belajar. Penjelasan tentang proses belajar akan kita paparkan dalam bagian berikut nanti.
2.2.2    Tahap-tahap Belajar Motorik
                        Ada kesamaan pendapat para ahli, bahwa belajar keterampilan motorik berlangsung melalui beberapa tahap. Fitts (1964); Fitts & Posner, 1967) telah membahas tahap- tahap belajar motorik yakni: (1) tahap kognitif, (2) tahap asosiatif, dan (3) tahap otomatis.
1.   Tahap Kognitif
Tatkala seseorang baru mulai mempelajari sesuatu tugas, katakanlah keterampilan motorik, maka yang menjadi pertanyaan baginya ialah, bagaimana cara melakukan tugas itu. Dia membutuhkan informan mengenai cara melaksanakan tugas gerak yang bersangkutan. Karena itu, pelaksanaan tugas gerak itu diawali dengan penerimaan informasi dan pembentukan pengertian, termasuk bagaimana penerapan informasi atau pengetahuan yang diperoleh.
Pada tahap kognitif ini, sering juga terjadi kejutan berupa peningkatan yang besar jika dibandingkan dengan kemajuan pada tahap-tahap berikutnya. Pada tahap itu juga, bukan mustahil siswa yang bersangkutan mencoba-coba dan kemudian sering juga salah dalam melaksanakan tugas. . Gerakannya memang masih nampak kaku, kurang terkordinasi, kurang efisien, bahkan hasilnya tidak konsisten. Sebagai contoh, seorang pemula. dalam bulutangkis mampu melakukan pukulan service yang "halus" (yakni cock melayang rendah di alas faring dan masuk ke petak serice), namun keterampilan tersebut hanya sekali-kali dapat dilakukannya. Si pelaku masih mencari-cari hubungan antara cara melaksanakan dan hasil yang dicapai. Karena itu, masih belum terbentuk satu pola gerak yang konsisten. Siswa yang bersangkutan dihadapkan dengan tugas yakni siapa yang harus dilakukan, sehingga tahap pertama ini oleh Adams disebut tahap verbal- motor.
            2. Tahap Asosiatif
        Setelah tahap pertama, secara deskriptif dapat dijelaskan, berlangsung tahap kedua yang disebut tahap asosiatif. Permulaan dari tahap ini ditandai oleh semakin efektif cara-cara siswa melaksanakan tugas gerak, dan dia mulai mampu menyesuaikan diri dengan ketentraman yang dilakukan. Akan nampak, penampilan yang terkordinasi dengan perkembangan yang terjadi secara bertahap dan lambat laun gerakan semakin konsisten. Jika seorang pemula belajar menembakkan bola ke dalam ring dalam permainan bola basket hanya hampu memasukkan 2-3 tembakan dari kesempatan, maka memasuki tahap asosiatif ini, dia makin paham tentang misalnya berapa kira-kira daya yang harus dikerahkan, atau bagaimana peranan dari pergelangan kaki dan jari-jari untuk mengendalikan bola. Gerakannya tidak lagi untung-untungan, tapi makin konsisten. Artinya, gerakannya makin terpola, dan dia semakin menyadari kapan antara gerak dan hasil yang dicapai.
Pada tahap ini, seperti dikemukakan beberapa penulis (misalnya, Adams, l971: Fitts. 1964), tahap verbal semakin ditinggalkan dan si pelaku. memusatkan perhatiannya pada aspek bagaimana melakukan pola gerak yang baik, ketimbang mencari-cari pola mana yang akan dihasilkan. Dalam eksperimen belajar motorik, tahap itu oleh Adams disebut motor stage (tahap motorik).
            3. Tahap Otomatis
                        Setelah-seseorang berlatih selama beberapa hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, dia memasuki tahap otomatis. Dikatakan demikian, karena keterampilan motorik yang dilakukannya, dikerjakannya secara otomatis. Dikatakan demikian, karena pelaksanaan tugas gerak yang bersangkutan tak seberapa terganggu oleh kegiatan lainnya yang terjadi secara simultan. Seorang pengetik yang mahir misalnya, mampu dengan lancar mengetik tanpa melihat huruf-huruf ketikan, sementara dia memperhatikan naskah yang sedang diketiknya. Seorang pemain bola basket yang telah mahir, mampu menembakkan bola secara efektif ke ring,. meskipun dalam keadaan posisi yang sulit, misalnya karena dihadang ketat oleh lawan. Yang menarik bagi kita ialah dalam melaksanakan tugas itu, si pelaku tak seberapa banyak menumpahkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dikerjakannya. Tentu saja banyak keuntungannya, yakni si pelaku dapat. memproses informasi tentang aspek lain yang juga penting seperti taktik bermain, misalnya dalam teknis bermain bulutangkis pemain berkosentrasi pada penampilan. Masalah belajar motorik pada tingkat yang lebih tinggi tersebut hampir-hampir tak terteliti. Persoalannya, barangkali terkait dengan kesulitan yang dialami ketika eksperimen berlangsung, termasuk kesukaran dalam menjalin kerjasama dengan para subjek agar tetap bersedia terlibat dalam kegaitan penelitian. Karena itu, yang pernah ditempuh ialah studi alamiah terhadap penampilan siswa. Tentu saja prosedur.semacam ini menghadapi kelemahan seperti beberapa varibel internal tak dapat dikontrol untuk memperoleh pengertian ilmiah yang cermat tentang proses belajar. Memang ada usaha untuk menelaah masalah otomatisasi gerakan seperti yang dilakukan oleh Schneider dan kawan-kawannya (1985; Schneider & Fisk 1,983) dalam tugas yang menekankan waktu reaksi, namun sayangnya studi dalam belajar motorik cenderung mengensampingkan persoalan tersebut (Schmidt, 1988). Karena itu, wilayah masalah tersebut sangat menarik untuk diteliti.
2.2.3    Kombinasi Keterampilan Lama dan Baru
Meskipun tidak .banyak usaha untuk meneliti secara cermat, tapi sungguh masuk akal, bahwa suatu keterampilan yang dianggap baru bagi orang dewasa, sesungguhnya bukan benar-benar baru, tapi merupakan kombinasi dari ketrampilan yang telah dipelajarinya pada waktu sebelumnya. Dengan kata lain, meskipun keterampilan yang dipelajari itu "baru" tapi keterampilan tersebut pada dasarnya hanya dapat dikerjakan karena seseorang telah menguasai suatu keterampilan pada waktu sebelumnya. Di antara keterampilan tersebut, ada yang distruktur kembali atau bahkan mungkin sekali sebagian di antaranya merupakan basis bagi penguasaan gerak yang dianggap baru. Ini berarti, keterampilan manusia yang dianggap penuh dengan berbagai.kemungkinan dalam perwujudannya berkembang seumpama susunan dari "lapisan-lapisan" keterampilan yang berkombinasi menjadi sebuah keterampilan baru. Bahkan ada ide yang menyatakan, semua belajar motorik telah berakhir kira-kira pada usia 4 tahun.(Schmidt, 1988).
2.2.4    Kapasitas Mendeteksi Kesalahan Gerak
Dalam penampilan keterampilan yang lebih alamiah misalnya, kita dapat mengamati penguasaan suatu keterampilan bermain didukung oleh pendeteksi kesalahan tergantung pada jenis atau tipe tugas yang dilakukan. Sehubungan dengan hal ini, maka dibedakan tipe gerakan yang cepat dan lambat pengujiannya secara umum sebagai berikut. Dalam hal gerakan yang cepat, studi yang dilakukan Schmidt dan Aftite (1972) yang mempergunakan tugas timing balistik dimana, subjek menjalankan sebuah slide dari satu posisi di sepanjang jarak 23 cm sehingga dapat ditempuh waktu gerak hampir 150 milidetik, menghasilkan kesimpulan yang cukup meyakinkan. Subjek diberi kesempatan untuk melakukan 170 trial dengan mass latihan dua hari. Dengan prosedur tersebut subjek membuat sebuah gerakan, dan kemudian diminta untuk menaksir skornya data per milidetik. Kemudian kepada mereka diberitahukan tentang hasil penampilannya atau PH dalam milidetik juga. Skor yang disebutkan oleh subjek disebut kesalahan subjektif dan skor yang sebenarnya disebut kesalahan objektif. Asumsi kedua peneliti ialah, jika si pelaku memiliki kapabilitas untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi, maka kesamaan atau kesesuaian antara kesalahan subjektif dan kesalahan objektif semakin meningkat. Dengan dernikian, skor subjek sendiri dapat dijadikan penaksir yang cermat bagi penampilan subjek yang sebenarnya.
Bagaimana hasil analisis statistik yang mereka peroleh. Pada blok pertama. rata-rata korelasi sekitar 0,28
yang berarti korelasi antara kesalahan subjektif dari objektif dalam keadaan lemah. Namun tatkala latihan diteruskan, rata-rata korelasi meningkat hingga pada tahap kedua mendekati 1.0. Data ini menunjukkan bahwa siswa semakin peka terhadap kesalahannya melalui perkembangan dari proses deteksi kesalahan.
Seperti dikupas oleh Schmidt (1988). apakah prinsip yang melandasi gejala itu? Seperti telah diuraikan dalam teori sistem tertutup, si pelaku mempergunakan umpanbalik dari gerakan itu sendiri dengan cara membandingkannya dengan rujukan benar salahnya gerakan untuk menentu- kan suatu kesalahan setelah respons selesai. Jadi deteksi kesalahan tak berfungsi untuk menghasilkan suatu tindakan, dan mekanisme tersebut hanya untuk mengevaluasi gerakan setelah selesai dilakukan. Sebagaimana ulasan terdahulu, waktu sama sekali tak cukup, untuk memanfaatkan umpanbalik sebagai bahan untuk mengoreksi gerakan ketika sedang berlangsung. Yang lebih sesuai ialah, koreksi dilakukan setelah suatu gerakan terlaksana sepenuhnya.
Prinsip, tersebut di atas tentu tak berlaku bagi gerakan yang lambat. Berbeda dengan pelaksanaan gerakan yang cepat, rupanya kapabilitas mendeteksi error ikut bertanggunggung jawab dalam menghasilkan tindakan dalam tipe gerakan yang lambat. Schmidt (1988) pada dasarnya berpendapat (atas dasar bukti- bukti yang ada) bahwa proses deteksi kesalahan dipakai untuk menentukan posisi anggota tubuh dalam gerakan yang lambat. Nilai praktis dari pengembangan teori, tersebut ialah pemanfaatan kemampuan si pelaku untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi. Ini berarti, ada peluang uniuk memanfaatkan kapabilitas tersebut sebagai pengganti umpanbalik tentang hasil yang sebenarnya. Dengan demikian, guru atau pelatih dapat merangsang kemampuan siswa error yang dilakukannya tanpa untuk mampu mendeteksi atau menaksir harus tergantung pada hasil yang sebenarnya. Tentu saja, seberapa jauh efektivitas prosedur tersebut bagi peningkatan keterampilan membutuhkan bukti-bukti yang cukup bukan saja dari kondisi laboratorium tapi juga dari penampilan seseorang dalam situasi olahraga di lapangan. Selain itu, ide penting rupanya ialah, perlunya pengembangan kepekaan dan kesadaran siswa terhadap gerak yang dilakukannya, sehingga dia dapat memahami kesalahan yang terjadi.
Bukti-bukti tentang efektivitas kapabilitas mendeteksi error itu terungkap dari studi Hogan dan Yanowitz (1978) yang memberikan tugas kepada subjek untuk mengestimasi kesalahan mereka sebelum memperoleh PH pada setiap trial dalam tugas timing balistik. Hasilnya ialah tak ada perbedaan yang nyata antara kedua kelompok. Baru-baru ini Schmidt dan Shapiro (1986) mengulang kembali studi dengan memperhalus paradigms Hogan-Yanowitz, kecuali pemakaian tugas yang berbeda. Hunt (1982) mempelajari gejala tersebut dalam belajar verbal. Seperti dilaporkan Schmidt (1988), secara keseluruhan ada bukti-bukti yang cukup kuat untuk mendukung kesimpulan tentang peranan estimasi error untuk penguasaan keterampilan yang efektif dalam keadaan PH tidak ada pada tes transfer. Tapi eksperimen tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang nyata, sehingga membangkitkan keraguan terhadap generalisasi yang diperoleh.

2.2.5    Model Me'rarkht Kontrol
Dalam bagian ini kita mengulang kembali kupasan tentang hierakhi dari kontrol terhadap gerakan. Ide tentang perilaku motorik berjenjang menjelaskan, pada tingkat yang lebih tinggi dari sistem tanggung jawabnya ialah untuk membuat keputusan, dan pad tingkat yang lebih rendah tanggung jawabnya ialah untuk melaksanakan keputusan. Kalau kita tinjau kembali pada pemrosesan informasi, maka proses pembuatan keputusan it dianggap sebagai jenjang "lebih tinggi" ketimbang aparat pemogram motorik. Era pada jenjang itu akan terjadi melalui latihan, kontrol motorik secara sistematis beralih dari tingkat yang tinggi ke yang lebih rendah datar, sistem melalui latihan (Schmidt, 1988).
2.2.6    Penciptaan Gerakan Otomatis
                                    Masalah berikutnya yakni, bagaimana proses penciptaan gerakan sehingga menjadi otomatis dalam pelaksanaannya? Jika kita kembali ke ide yang dikemukakan pada waktu satu abad yang lampau (misalnya, James, 1890), maka terungkap, seseorang yang terampil melakukan suatu tugas gerak tanpa kesadaran, dan tanpa gangguan yang signifikan dari aktivitas memproses informasi lainnya. Dengan kata lain, gerakan yang otomatis terjadi tanpa interferensi dari tugas lain yang dilakukan bersamaan waktunya. Sejauh mana keajegan pernyataan ini dapat kita telaah lebih lanjut.
Ada dua pandangan yang dapat kita kemukakan di sini untuk menjelaskan gejala gerakan otomatis. Pertama, yang sudah lazim dikenal ialah struktur pemrosesan informasi yang khusus pada dasamya dipelajari melalui latihan, dan struktur tersebut menangani pemrosesan informasi yang dibutuhkan dari semua tugas, seperti seleksi respons dan seterusnya. Masing-masing dari proses tersebut dapat berlangsung jika terdapat kondisi rangsang yang memadai dan kemudian dipacu untuk menjelma menjadi.tindakan tanpa kesadaran. Jika seseorang mampu menangani pemroses informasi semacam itu, maka si pelaku mengurangi faktor gangguan dari aktivitas kognitif lainnya yang bersaing sehigga suatu tugas dapat dilakukan tanpa gangguan dari tugas sekunder.
Pandangan yang kedua seperti dikemukakan Schmidt (1988) sendiri ialah dalam suatu tugas yang dapat diprediksi dan terjadi secara berulang-ujlang sehingga terdapat kocederungan yang bersifat umum misalnya, jika cocok jatuh "berguling" di alas faring, dua alternatif utama yang dapat dilakukan pemain ialah melakukan permainan net atau mengangkat bola tinggi-tinggi ke atas, maka rupanya bisa terjadi pergeseran kontrol kesadaran dari taraf yang lebih tinggi ke tingkat kontrol program motorik yang lebih rendah. Dalam suatu tugas yang sudah dianggap rutin karena sama polanya atau yang sebelumnya dapat diprediksi, maka akan dapat dilakukan antisipasi terhadap rangsang yang datang. Kecenderungannya, si pelaku tidak serta merta mampu melakukan respons secara langsung terhadap rangsang yang muncul, tapi jauh.
2.2.7      Teori Belajar Motorik
                        Dalam bagian ini akan dibahas dua macam teori belajar motorik yang dianggap ekslusif dan dikembangkan pada tahun-tahun terakhir ini dengan maksud untuk mengungkapkan faktor di balik proses belajar dari sudut pandangan. Yang pertama ialah teori.belajar motorik yang dikembangkan oleh Adams dan selanjutnya teori Schema yang dikembangkan oleh Schmidt. Prinsip-prinsip dasar kedua teori ini terutama tentang sistem pengontrolan gerak : terbuka atau tertutup.
1.        Teori Adams
Ketiadaan paradigma yang kukuh dalam pengembangan teori belajar motorik rnendorong Adams untuk mengembangkan teori belajar motorik yang disebutkannya dalam istilah teori belaiar motorik sistem tertutup (closed-loop theory) (Adams. 1971).
Seperti telah dikemukakan, dalam sistem tertutup, umpanbalik dimanfaatkan untuk kemudian dicocokkan dengan rujukan. Konsep utama dari teori Adams yakni mekanisme rujukan atau rujukan benar salahnya suatu gerakan. Artinya, gerakan yang telah dilakukan seseorang dibandingkan dengan suatu kriteria. Dalam teori Adams mekanisme rujukan ini beroperasi dalam sistem tertutup, tapi kemudian sebagai sebuah sistem terbuka yang mengirimkan semua informasi yang dibutuhkan untuk memulai suatu gerakan.
Apa yang dimaksud dengan formasi jejak perseptual dalam teori Adams? Ambil contoh, manakala seseorang telah melakukan suatu tugas gerak, katakaniah menggeser sebuah slide hingga jarak tertentu pada posisi mendatar lurus, maka dihasilkan rangsang umpanbalik intrinsik. Rangsang ini meninggalkan bekas atau jejak dalam sistem persyaratan (karena itu disebut jejak perseptual). Dengan diulang- ulanginya respons beberapa kali, maka seseorang semakin mendekati target yang. ditetapkan dan pada setiap trial membekaslah jejak yang berbeda, sehingga terjadi semacam koleksi jejak. Selain itu, berkat penyediaan.umpanbalik berupa pengetahuan tentang hasil (PH), maka seseorang semakin mendekati target, dan setiap trial menyediakan umpanbalik berupa gerakan yang benar atau tepat. Setiap kali seseorang mencoba, maka semakin kuat jejak perseptual yang berarti semakin berkurang kemungkinan kesalahan yang terjadi.
Adam menolak peranan PH sebagai reinforcement, karena PH dianggap semata-mata sebagai hadiah. Menurut Adams, siswa bukan sebagai penerima hadiah pasif, tapi secara aktif terlibat dalam verbalisasi dan pembentukan hipotesis mengenai tugas yang akan dipelaiari. Bagi Adams, PH memberikan informasi untuk memecahkan masalah.
Setelah sebuah trial dilakukan, PH disampaikan, sehingga sehingga PH bagi Adams memiliki fungs
bimhigan. Pada tahap awal belajar, siswa mempergunakan PH dalam kaitannya dengan jejak perseptual untuk melakukan gerakan yang semakin cermat.
Adams juga menjelaskan bagaimana siswa mengembangkan kapabilitas mendeteksi error. Dia menjelaskan, setelah suatu gerakan rampung dilakukan, seseorang akan membandingkan umpanbalik yang diterimanya dengan jejak perseptual, dan perbedaan yang terjadi merupakan error yang akan ditanggapi oleh siswa yang bersangkutan. Karena itu, dipakai istilah reinforcement subjektif untuk menuntun gerak menuju suatu target tanpa penggunaan PH. Menurut teori Adams, pengarahan gerak ke arah target yang dituju dapat menghasilkan perubahan karena umpanbalik terus menerus menambah jejak perseptual.
Selanjutnya, agak berbeda dengan teori sebelumnya, Adams me- nambahkan bahwa untuk memperoleh kapasitas sistem mendeteksi error, dua memori harus
hadir satu untuk memproduksi tindakan dan satu lagi untuk mengevaluasi hasil yang diperoleh. Menurut Adams meskipun jejak perseptual merupakan wakil dari respons yang benar, dan gerakan diseleksi dan diawali oleh keadaan memori lainnya yang disebut Adams "jejak memori", sebuah "program motorik pencegah." bertanggung jawab untuk memilih dan mengarahkan tindakan, memulainya dan menuntunnya agar tak lepas dari target. Kemudian, jejak perseptual mengambil alih kendali kontrol terhadap gerak yang menyebabkannya sampai pada lokasi target yang diharapkan. Yang menarik dari teori Adams ini ialah bahwa error yang dihasilkan selama latihan berlangsung negatif efeknya terhadap belajar. Hal ini disebabkan karena, jika suatu error dilakukan, umpanbalik yang diperoleh darinya tentu akan sangat berbeda dengan apa yang didapat dari gerakan yang benar, dan karena itu pula maka jejak perseptual akan mengalami sedikit cacad. Karena itu, implikasi terpenting ialah, bimt¬bingan harus diberikan dalam belajar gerak untuk menghindari.kesalahan.
Sebagai murid yang brilian, Schmidt mencoba untuk menganalisis keterbatasa teori Adams. Titik tolak analisisnya ialah, dalam teori Adams nampak ketidak bulatan teori karena ada hal yang nampak tidak konsisten secara logika. Jejak perseptual bagi Adams ialah konsep kunci  karena jejak perseptual memungkinkan seseorang dapat (a) menentukan letak anggota badannya yang benar, dan (b) sebagai dasar untuk mengetahui seberapa jauh suatu gerakan meleset dari lokasi yang ditetapkan setelah keseluruhan gerak selesai. Schmidt (1975) mengemukakan argumentasi, jika jejak perseptual merupakan satu-satunya pemandu gerak, ini berarti tidak dibutuhkan informasi tambahan mengenai error yang terjadi. Russel (1974) mengetengahkan bukti bahwa tak ada mekanisme mendeteksi error setelah respons melakukan posisi lambat, meskipun telah dilakukan 100 kali, suatu hal yang bertentangan dengan teori Adams. Adams sendiri tak membedakan gerakan yang lambat dan yang cepat, meskipun kedua tipe gerakan tersebut mempergunakan mekanisme deteksi error yang berbeda (misalnya, 'Newell, 1976).
Menurut Schmidt (1988) keterbatasan teori Adams yakni hanya terbatas pada fenomena gerakan lambat. Selain itu, salah satu kelemahan utama teori Adams yakni bertentangan dengan beberapa bukti tentang diferensiasi atau pemutusan syaraf diferent. Bukti penelitian menunjukkan, bahwa organisme yang dalam keadaan tak memperoleh umpanbalik sensorik dari anggota badannya masih mampu untuk melakukan respons dengan terampil (meskipun sedikit menurun), dan bahkan mempelajari kegiatan baru (misalnya, Taub & Berman, 1968). Pandangan tersebut disanggah kembali oleh Adams (1976b) dengan suatu pendapat bahwa bisa jadi hewan mengalihkan sumber lain umpanbalik seperti penglihatan sebagai pengganti dari hilangnya sensasi dari anggota tubuh yang memberikan respons. Teori Adams mengabaikan eksistensi pembangkit pola sentral, suatu struktur yang nampaknya berkemampuan untuk menimbulkan satu aksi yang kompleks tanpa memanfaatkan umpanbalik.
2.        Teori Schema
Pada tahun 1975, karena tidak pugs dengan teori Adams yang bertahan sampai 16 tahun sebagai rujukan, Schmidt mengembangkan teori baru yang kini di Amerika diterima cukup luas sebagai teori belajar motorik. Yang menjadi sorotan Schmidt, teori Adams mengabaikan sistem terbuka, dan karena itu teori Schema menekankan sistem terbuka. Meskipun disebut baru, Schmidt sendiri mengakui basis teori Schema ialah beberapa konsep yang sudah dirintis oleh teori Adams. Yang masih dipandang efektif dipertahankan dan yang dianggap rapuh ditinggalkan. Perbedaan lain yang nyata antara teori Schema dengan ngan teori Adams, yakni teori "baru" itu menekankan pokok pikiran tentang proses belajar baik yang terdapat dalam gerakan lambat maupun cepat.
Konsep sentral dalam teori schema ialah dua keadaan memori, yaitu,. (1) memori recall yang bertanggung jawab untuk memproduksi gerakan, dan (2) memori rekognisi yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi respons. Sebagai contoh, dalam gerakan balistik, memori recall terlibat dengan program motorik dan paramat
er, jauh sebelumnya distruktur untuk melaksanakan suatu gerakan dengan keterlibatan yang amat minim dari umpanbalik periperal. Di lain pihak, memori rekognisi ialah sistem sensoris yang berkemampuan untuk mengevaluasi respons yang dihasilkan umpanbalik setelah suatu gerakan selesai dilaksanakan. Karena itu, kepada subjek diberitahukan error yang terjadi (Schmidt, 1938).
Dalam gerakan lambat, memori recall dianggap tak memiliki peranan apa-apa, dan persoalan umum bagi siswa ialah membandingk4n umpanbalik dengan rujukan benar salahnya gerakan. Dalam, tipe gerakan lambat, recall berfungsi untuk mendorong anggota tubuh seseorang dengan daya dorong yang kecil, dan seseorang akhirnya berhenti, manakala umpanbalik dan rujukan gerak ada kesesuaiannya barangkali inti dari teori Schema ialah ide tentang generalisasi program motorik (semacam program Master), suatu struktur yang dapat mengatur tempo dan menetapkan daya relatif dengan paramater dibutuhkan untuk menetapkan program yang akan dilaksanakan.
Apakah konsep schema itu baru? Konsep Schema tergolong salah satu konsep tua dalam psikologi, diperkenalkan oleh Head (1926) dan kemudian dipopulerkan oleh Bartlett (1932). Menurut Bartlett, Schema adalah suatu memori yang abstrak yang mewakili peristiwa awal atau suatu keterampilan, dianggap sebagai konsep atau generalisasi. Selanjutnya, popularitas ide itu pudar sejak tahun 1940-an hingga 1960-an, namun kemudian minat terhadap konsep itu muncul kembali melalui eksperimen yang dilakukan oleh Posner dan Keels (1966). Schmidt sendio mencoba untuk menerapkan ide itu dalam konteks belajar motorik dikombinasi dengan ide tentang generalisasi program motorik
Dalam rangka menjelaskan proses belajar ketrampila
n motorik, Schmidt (1988) mengemukakan beberapa unsur dari teorinya. Pertama, setelah suatu gerakan dibuat oleh generalisasi program motorik, maka seseorang dalam waktu singkat menyimpan empat hal: (1) kondisi awal (misalnya posisi tubuh, perpindahan titik berat badan, dan sebagainya), siswa menyimpan parameter yang disiapkan bagi generalisasi program motorik; (3) hasil gerakan dalam pengertian PH disimpan; dan (4) siswa menyimpan konsekuensi sensoris dari gerakan (misalnya bagaimana rasanya gerakan, bagaimana suaranya, dan seterusnya). Keempat sumber itu disimpan siswa dalam "benaknya" selama periode tertentu hingga kemudian dia dapat membayangkan atau mengabstraksi relasi antara keempat unsur itu. Kedua relasi yang terjadi, atau Schema, dianggap telah terbentuk.
Schema yang dimaksud, pertama disebut Schema recall, yang bertanggung jawab terhadap produksi gerak. Yang kedua adalah, schema rekognisi, yang dianggap bertanggung jawab untuk mengevaluasi hasil gerakan. Sebelum gerakan dilakukan, individu memilih hasil gerakan dan menentukan kondisi awal. Kemudian, dengan schema rekognisi, individu dapat mengestimasi konsekuensi sensoris yang akah terjadi apabila gerakan itu dihasilkan. Hal ini disebut konsekuensi sensoris yang diperkirakan. Keseluruhan sistem terlukis dalam proses yang terjadi sejak kondisi awal dan hasil akhir. Bagi gerakan yang cepat, kondisi awal dan hasil yang diinginkan dimasukkan sebagai bahan masukan bagi sistem dan kemudian diteruskan.ke parameter dan konsekuensi sensoris yang diperkirakan. Setelah gerakan di "nyalakan" oleh program, informasi sensoris dari anggota tubuh dan lingkungan diterima kembali dan kemudian dibandingkan dengan keadaan yang diharapkan, setiap error yang terjadi dilevel label dan kemudian dikirimkan kombati ke mekanisme pemrosesan informasi sebagai reinforcemet subjektif.
Dalam gerakan lambat, reinforcement subjektif dipergunakan untuk menghasilkan suatu tindakan. Dalam situasi demikian, sumber-sumber umpanbalik yang diekspektasikan mewakili kriteria benar salahnya gerakan, dan umpanbalik dibandingkan terhadap mereka untuk kemudian menghasilkan informasi tentang error yang terjadi selama gerakan berlangsung. Individu yang selanjutnya menggerakkan sebuah yang terjadi sekecil mungkin. Jadi, meskipun gerakan lambat secara aktif dihasilkan, rupanya juga diatur oleh memori rekognisi dan Schema rekognisi.
Teori Scheffia merupakan, alternatif teori Adams dalam memahami fenomena belajar motorik. Jika dibandingkan dengan teori Adams, teori schema yang dikembangkan Schmidt lebih memperhitungkan macam-macam tipe gerak (lambat dan cepat), kapabilitas deteksi error, dan penjelasan tentang bagaimana dihasilkan suatu ketrampilan baru. Tentu saja, teori Schema juga masih belum mampu mencakup semua penjelasan mengenai gejala belajar, sehingga dibutuhkan upaya untuk memperkayanya dengan konsep baru. Meskipun demikian, teori itu dapat dipakai sebagai kerangka untuk memahami gejala belajar motorik.
           





BAB III
PENUTUP


Demikian yang dapat saya tuliskan tentang materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua serta bisa jadi panduan juga motifikasi dalam bidang belajar dan pembelajaran dengan pahamnya dan peresapan dalam belajar motorik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar